Jargon Buster!

Sepertinya menarik untuk menulis tentang beberapa istilah di sepeda MTB yang sering kita dengar tapi mungkin kurang mengerti artinya. Gw coba ngejelasin beberapa diantaranya dengan bahasa gw sendiri. Semoga bisa dimengerti 😀

Ngga’ dalam urutan abjat ya…yang pas kebetulan ke inget aja 😛

–          Hardtail: Sebutan untuk sepeda yang tidak mempunyai suspensi di frame bagian belakang, hanya mempunyai  suspensi dari fork di depan.

–          Fulsus: Sepeda dengan 2 sistem suspensi, di bagian belakang frame dan fork depan.

–          Cockpit: Handlebar, stem, dan system control (brake lever, shifter, grip) serta top-tube biasa disebut cockpit area. Semua bagian yang menjadi kendali utama sepeda.

 –          Bedding-in: Istilah ini berkaitan dengan system pengereman. Proses dimana pad dan rotor baru sudah terpoles rata sehingga meningkatkan daya pengereman. Biasanya  dengan beberapa kali sprint dan rem mendadak akan mempercepat proses ini.

–          Reach Adjust: Masih berubungan dengan rem. Sebuah mekanisme yang bisa mengatur jarak lever dengan handlebar.

–          Tapered Head-tube:  Head tube dengan 2 ukuran cup atas bawah yang berbeda . Cup atas dengan ukuran normal 1 1/8 dan cup bawah oversized. Dikatakan tipe ini menambah kekuatan frame dan mengurangi berat.

–          Ground Clearance: Area bebas antara tanah dan bottom bracket. Biasanya Bottom bracket menjadi acuan dalam mengukur jaraknya.

 –          E to E: Kepanjangan dari Eye to Eye. Istilah ini berhubungan dengan Shock belakang/rear shock. Jarak 1 titik baut shock ke titik baut shock lainnya.

–          Axle:  Batangan poros yang menempatkan hub di drop-out.

 –          Maxle Axle:  Through Axle dengan mekanisme Quick Release. Untuk menambah kekuatan  wheel-set dan kemudahan dalam pemasangan. Diperkenalkan oleh RockShock.

–          QR: Quick Release, system buka pasang wheel-set yang menggunakan as yang berulir dengan handle untuk memudahkan buka pasang. Diameter as tidak lebih dari 100mm.

–          TA: Through Axle, sama dengan QR perbedaannya terletak pada penggunaan As yang lebih besar.

 –          ISCG: Singkatan dari International Standard Chain Guide. Berupa tempat baut tambahan yang berada di bottom-bracket sebagai dudukan chainguide.

–          Chainguide: Alat yang menjaga rantai pada jalurnya, biasanya ini digunakan pada saat kita hanya menggunakan 1 chainring.

–          Linkage: Bagian/part gerak tambahan, yang menyambungkan shock dengan frame.

 

Ok. Segitu dulu…mungkin akan bersambung 😀


Track Ride – Citatih.

Dibutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan mobil untuk sampai ke lokasi ini. Citatih sendiri terletak di Sukabumi. Trek ini dikelola oleh Cheeroke Adventure (www.cheroadventure.com), di fasilitas mereka sendiri banyak kegiatan laen yang bisa dilakukan;  arung jeram, outbound, snorkling, dll.

Trek/jalur sepanjang kurang-lebih 20km ini, banyak melewati hutan karet, persawahan dan kampung. Perbandingan tanjakan dan turunan cukup seimbang. Menurut info dari sang pemandu mereka punya 3 trek/jalur pilihan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

sebagian besar melewati hutan karet...

Jalur yang dilewati kali ini terbilang jalur wisata, dibawa kesini karena beberapa orang didalam grup baru saja maen sepeda, untuk keamanan mereka dibawalah ke jalur ini. Tapi ngga’ berarti jadi boring, single track di dalam hutan karet menyenangkan untuk di ‘genjot abis’ dan kalo kreatif beberapa obctacle bisa dijadikan jump-ingan 🙂 dan juga turunan yang ada juga cukup panjang. Dan beruntung cuaca sedang cerah.

trek...trek...trek....

ada juga jalur makadam yang cukup panjang tetapi datar.

bwat hardtail siap-siap 'tremor'...

sedang rehat

Untuk gw jalur yang dilewati  ini mirip dengan jalur Cihuni, suasananya dan juga tekstur jalurnya. Tapi pemandangan disini menjadi nilai tambah…

hmm

jalur Kayangan - karena treknya ngga keliatan

Dan beberapa kilometer sebelum berahir, kita dikasih ‘bonus’…tanjakan yang lebih ngehe’ daripada tanjakan ngehe’! sepanjang kurang-lebih 800m. Dengan kemiringan kurang-lebih 45derajat dan berbelok-belok sukses menjadi musuh utama yang anti tanjakan.

di sini kurang keliatan betapa ngehe'-nya ni tanjakan

Tapi kesemuanya itu jadi sebuah perjalanan/pengalaman yang menyenangkan selama 4 jam di atas sepeda.

view di Finish point.

-Respect Nature and Have Fun-


Inabicycle 2011 – Need to improve, a lot!

Sebuah acara pameran sepeda yang di klaim sebagai terbesar di Indonesia dan diadakan di lokasi utama JCC Senayan. Dari nama acaranya “Indonesia International Bicycle Exhibition” 26-29 may 2011 (www.indonesiabicycleshow.com), tentunya impresi pertama “wah, besar ni acara. pasti menarik!”.  Apalagi melihat jajaran logo brand yang di klaim akan ada di acara tsb. Menarik? nanti dulu…

Cerita dari awal dulu ya, dateng dihari pertama. Sekitar jam 6 sore, terlihat sangat ramai dilokasi. Wah… brarti animo nya bagus nih, jam segini udah rame. Ternyataaa…acara sepeda ini digabung dengan acara apa nusantara gitu… jadi di dalam satu venue ada 2 acara yang mao diliat dari segi apapun ngga nyambung…satu2nya hal yang sama cuma dinama acara ada kata “Indonesia”. Ok lah terima ajah…wong dateng tinggal liat2 aja masih protes :D. Masuk di section depan langsung terlihat booth nya SSR bandung. Nama lokal yang satu ini cukup terkenal di dunia sepeda terutama DH dan MX. Booth cukup menarik dengan dagangannya yang warna-warni. Disebelah nya ada Rocket, nama yang satu ini dari dunia Fixie.

Masuk ke hall utama, langsung terlihat Mercedez-Benz dengan booth-nya yang cukup megah dan juga line-up sepedanya.

salah satu exhibitor yang niat...

lalu juga ada Roda 2, paling niat menggarap booth nya, line-up yg ada juga lumayan mewakili dari mulai road-bike sampe DH.

roda2

dan sudah…selesai. Booth2 berikutnya sampai ujung gang, sangat biasa.

day 1.

Hal-hal basic yang gw berharap bisa ditemuin disebuah ‘exhibition” sama sekali ngga ada, seperti: Diskon, promo, line-up baru, demo produk, bisa nyoba sepeda, etc. Ngga ada tuh semua. Dan hampir setiap booth, tidak ada yang punya flyer yg berisi info produk dan juga para SPG nya seperti ngga ngerti apa yang mereka jual, ditanya apa jawabnya apa…

Dan juga variasi barang yang ada, terasa kurang. Selain sepeda gw juga mengharapkan bisa menemukan parts pendukung sepedahan, seperti; protector, helm, glove, etc yang ternyata sangat-sangat terbatas.

Satu hal yang langsung gw notice, tidak ada produsen sepeda lokal besar seperti; United, Polygon, WIM, dll dan juga toko sepeda lokal besar seperti; Rodalink, BAB, dll. Knapa ya? gw rasa waktunya yang kurang tepat. Para pemain besar lokal tersebut sedang sibuk untuk PRJ yg sebentar lagi akan mulai. Dimana disitu (PRJ) transaksi akan lebih berjalan. Soal waktu, knapa acara ini ngga dibuat disekitar bulan Agustus atau September dimana biasanya produsen2 mulai memperkenalkan product line-up terbaru mereka untuk tahun depan, selain jg PRJ udah kelar. Jadi akan lebih menarik melihat produk-produk yang ada.

Satu-satu nya hal yang menarik adalah; Fox memamerkan line-up 2012 shock mereka. Dengan Kashima coating yang lebih ‘sangar’ dan grafis yang baru, sudah pasti produk-produk ini jadi incaran di ahir taun ini. O iya di booth Fox ini langsung dikawal oleh perwakilan dari singapore yang hanya bisa berbahasa inggris dan sangat mendetail ketika menerangkan spek produk serta inovasinya.

2012 line up

Dan ada booth2 produsen parts dari Cina, yang gw rasa rada salah tempat…sepertinya target mereka adalah B2B (business to business) bukan end-users yang menjadi target pameran.

koh... toko blom buka?

cek toko sebela dah...

Sayang aja…sebuah acara yg memakai kata international ngga digarap dengan bagus. Kayanya sang ‘eo’ ngga’ punya insight yang bagus tentang sepeda dan industrinya, cuma berdasarkan ‘trend’ yang sedang ada. Masih lebih seru pasar sepeda Jpg atau TaKo :D…ini menurut saya loh…


WimCycle-Thrill Agent DJ 3.0

Setelah sekian lama……. ahirnya,

wuhuu senangnya bisa balik ke blog ini. Ditambah kesempatan mencoba sepeda baru 😀

Kali ini hardtail dari produsen lokal, Wimcycle. Dengan seri Thrill Agent DJ 3.0. Seri tertinggi dari line-up Thrill Agent, yang peruntukannya spesifik untuk Dirt Jump. Memang, mendengar nama Wimcycle bayangan yang pertama muncul adalah ” yah…bakal kacrut ni sepeda!”. hehe…. karena memang selama ini produk yang dihasilkan “ya gitu deh kualitasnya…”.

Tapi sepertinya produsen ini semenjak ahir 2010 awal 2011 mereka mulai mengeluarkan line-up baru yang memang orientasi-nya sport / lebih serius. Terlihat dari desain, bahan dan parts yang dipakai.

Sekarang gw mao nyoba sesuatu yang beda, gw mao bawa sepeda ini masuk ke trek all-mountain (gw coba bawa ke RA/rindu alam). Gw masuk jalur RA lama – gunung mas – taman safari – ngehe – kondangan – gadok.

Sebelum gw cerita gimana rasanya, sedikit tentang detail sepeda;

Frame berbahan Alloy, dengan geometri yang sangat spesifik untuk dirt-jump. Bentuk tube cukup unik (gw ngga’ terlalu suka :D), Top-tube berbentuk hexagonal dan rear triangle/chainstay dengan bentuk persegi, ditambah reinforce plate dibagian top-tube dan down-tube untuk memperkuat frame. Serta bentuk down-tube yang tidak langsung menuju head-tube tetapi menyatu dulu dengan tob-tube, dengan tujuan mendapatkan kekuatan lebih di bagian yang paling besar menerima ‘impact’ ini. Head-tube konvensional dengan aheadset diluar. Terdapat cable-mount sehingga jalur kabel rem dan kabel shifter terlihat rapi. Bagian bottom-bracket tanpa dilengkapi iscg mount. Seat-tube cukup tinggi untuk ukuran sepeda dirt-jump, dengan model quick release mempermudah perubahan ketinggian saddle. Wheel-base secara keseluruhan cukup pendek dan responsive. Drop-outcukup tebal dengan model horizontal. Sayangnya tidak ada ukuran untuk dipilih, frame ini hanya keluar dengan 1 ukuran (15 inch) dan hanya 1 pilihan warna (indigo blue).

Fork bawaan sepeda dapet Rock Shox Argile 318 dengan travel 100mm dan Trough Axle 20mm (parts favorit gw :D). Bagian kokpit di penuhi komponen dari Shimano, NukeHead, FSA dan WTB. Pengereman memakai Shimano Hidrolik BR-M 575 dengan rotor 160mm depan dan belakang, shifter Shimano SLX, stem dan handle-bar dari Nuke Head, head-set mengandalkan FSA dan grip dari WTB. Dibagian penggerak, crank arm dan dual-chainring+bashguard dipakai dari merk Gravity Moto  (part favorit kedua setelah fork) dilengkapi dengan Gravity external bottom-bracket dan flat pedal dari Wellgo. Chainguide Ethirteen Helm2 menjaga rantai tetap pada jalurnya. FD Shimano Deore dipercaya mengawal dual chainring (36T dan 24T). Pemakaian FD disini sedikit diluar kebiasaan sebuah sepeda dirt jump, tapi bisa dilihat sebagai nilai tambah bila kita ingin bermain di trek all-mountain. Dibelakang. RD shimano SLX medium cage 9-speed menemani sprocket 11T-34T 9-speed dari Shimano. Dan rantai KMC Z9 sebagai penyalur tenaga. Di bagian Wheelset, Alexrims FR32 siap menerima setiap “bantingan” dengan Front-hub Shimano SLX 32H disc dengan TA20 dan rear-hub Shimano SLX 32H disc QR. Ban Kenda Small Block Eight 2.35 di depan dan 2.10 dibelakang memberikan ‘grip’ yang mantap di setiap ‘corner’ dan traksi yang bagus. Tapi jangan berharap bisa bertahan di atas sepeda bila berada di trek berlumpur dan tanah basah dengan ban ini. Dibutuhkan sedikit usaha dalam memasang wheelset belakang, dikarenakan anting RD yang juga berfungsi sebagai chain-tensioner, sedikit menghalangi keluar masuk nya Quick Release.

Pertama kali dateng dari toko. . .

Nah… sekarang cerita di lapangan, pertama kali gw naekin gw kurang sreg dengan handle-bar dan ketinggian stem-nya. Semua terasa terlalu tinggi (untuk ukuran sebuah sepeda Dirt Jump). Butuh penyesuaian untuk hal-hal tersebut. Posisi stem gw rendahin dan handle-bar di ganti dengan jumping-bar (sedikit lebih lebar dan rise tidak tidak berlebihan). Dan ban depan di ganti dengan yang pacul/thread-nya lebih besar, untuk grip dan control yang maksimal.

yg warna putih bawaan sepeda. . . rasanya sangat ajaib!

Setelah semua berasa lumayan pas…baru sekarang keluar.

Setalah dilakukan beberapa perubahan...

Begitu turun dari samping Mang Ade’. . . langsung berasa karakter hardtail-nya. Semua bantingan sangat terasa tangan dan kaki. Di single-track sepeda ini sangat enak untuk pedaling, kompak dan agresif. Sampai bertemu dengan bagian rock-garden! di sini jadi inget kenapa dulu pengen punya sepeda fulsus :D. Gemeterannya ngga’ ilang ampe bawah…., apalagi kalo di hajar dengan hi-speed, bagian belakang sangat-sangat terasa liar. Masuk ke tanjakan ngehe’, sepeda ini termasuk nyaman. Dengan bantuan FD, tanjakan ngehe’ bukan masalah. Sisa perjalanan dilalui tanpa masalah hingga sampai lagi ke starting point. Kecuali gemeteran yg belom ilang. . .

Kesimpulannya, dengan harga rp.7.900.000 yang ditawarkan untuk sepeda ini cukup seimbang dengan komponen dan kesenangan yang bisa di dapat dari sepeda ini. . . . Tergantung rider-nya juga sih 😛

Bentuknya setelah di ajak "jalan-jalan". . .

-Have Fun & Respect Nature-


Healthy Narcissism?

Moment super langka bwat gw;

Menikmati majalah sepeda dengan cover muka sendiri  hehehe 😛

Ride Bike magazine 10th edition.

 

Thanks to: Yorgi, Abi, Ilham and Sony @ridebike.

😀


Vans “Off The Top”. Since when???

Suatu weekend seorang teman datang ke rumah mamerin barang belanjaannya. “Gw dapet Vans bagus, murah…”, gitu katanya. Dan memang  sangat rapih, dan pasti orang ngga’ akan curiga ato mikir macem-macem, wong dapet dus lengkap, ada kertas pembungkusnya juga yg di print dengan logo Vans!

Tapi, pas ngeliat logo yang di print di dus-nya… gw ngerasa seperti ada yang aneh….

Gw coba nyari-nyari info, sejak kapan  Vans Shoe merubah tagline line-up “skate shoe” mereka dari Off The Wall menjadi Off The Top?  Dan hasilnya. . .  Ngga’ pernah!

Coba liat-liat ke http://www.vans.com atau http://www.sneakerfreaker.com/feature/history-of-vans/2/

Dan hebatnya “barang” ini sangat rapih dalam pengerjaannya. Sungguh niat dan sungguh tidak bertanggung jawab!

Jadi bwat yang mao beli Vans, silahkan di cek-cek dulu “detail”-nya ya. . .

😀


Polygon-Collosus CRX XTR (2011 Series)

Minggu ini mendapat kesempatan menyenangkan, mencoba sepeda baru. Kali ini Polygon Collosus CRX XTR (2011 series). Sepeda travel 4″ yang memang diperuntukan untuk XC (cross-country).

sweet . . .

Dengan frame carbon dan komponen2 nya yg super-light membuat sepeda ini sangat ringan (blom ngitung tepatnya brapa kg). . . . atau mungkin karena lebih sering memakai sepeda travel 7″ jadi berasa ringan ni sepeda ya 😀

Polygon menjual seri ini secara Full-bike, Drive-train dan Brake-set memakai komponen dari Shimano XTR. Fork memakai Fox 32 FIT RLC travel 100, Rear suspension Fox RP23. Stem dan handlebar memakai Ritchey Carbon Matrix dan Superlogic Carbon riser. Wheelset dari Mavic CROSSMAX SLR (untuk spek lengkap bisa dilihat di http://www.polygoncycle.com)

Secara keseluruhan sepeda ini cukup kompak di ajak ber-manuver. Saya memakai frame size S, tinggi saya 173cm. Menghajar berm dengan kecepatan tinggi, nanjak, jumping atau sekedar pedaling kenceng di single-track datar. Cocok untuk trek seperti Jpg, Cihuni, TaKo BSD, tapi kurang nyaman untuk di ajak maen di trek seperti di RA, NURA, Cikole.

– Have Fun & Respect Nature –

Thanks to: Ride Bike Indonesia & Adrenaline Counter.